Tari Tanggai merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan. Tarian ini tidak hanya menampilkan keindahan gerakan dan kostum, tetapi juga sarat dengan makna budaya yang mendalam. Tari Tanggai biasanya ditampilkan dalam upacara-upacara adat dan penyambutan tamu-tamu penting, sebagai simbol penghormatan dan keramahan khas masyarakat Palembang.
Sejarah dan Asal Usul Tari Tanggai
Tari Tanggai telah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara yang pernah berjaya di wilayah Sumatera. Sebagai pusat kebudayaan dan perdagangan pada masanya, Palembang memiliki warisan budaya yang sangat kaya, dan Tari Tanggai adalah salah satu peninggalan seni yang masih bertahan hingga saat ini.
Awalnya, Tari Tanggai dipersembahkan dalam upacara penyambutan tamu-tamu kerajaan atau dalam acara adat penting, seperti pernikahan bangsawan. Tarian ini menggambarkan sikap hormat dan penghargaan kepada tamu, yang diyakini membawa keberkahan dan keharmonisan.
Makna Tari Tanggai
Secara filosofis, Tari Tanggai memiliki makna yang dalam. Setiap gerakan dalam tarian ini melambangkan kelembutan, kesopanan, dan keramah-tamahan masyarakat Palembang. Para penari yang umumnya terdiri dari wanita, memperlihatkan gerakan yang halus dan anggun, mencerminkan budi pekerti yang luhur.
Salah satu elemen penting dalam Tari Tanggai adalah tanggai itu sendiri, yaitu hiasan berbentuk kuku emas yang dikenakan di jari penari. Tanggai melambangkan keindahan dan kemegahan, serta penghormatan kepada tamu atau penonton. Gerakan tangan dengan tanggai ini menjadi daya tarik utama dalam tarian, memperlihatkan keanggunan yang khas dan terstruktur.
Gerakan dalam Tari Tanggai
Tari Tanggai terdiri dari serangkaian gerakan yang penuh makna, dimulai dari sikap tubuh yang tegak dan anggun. Setiap gerakan tangan, kaki, dan kepala penari memiliki aturan dan pola tersendiri, yang mencerminkan kehalusan budaya Palembang.
Beberapa gerakan utama dalam Tari Tanggai antara lain:
- Sembah Hormat: Gerakan ini melambangkan penghormatan kepada tamu atau orang yang lebih tua. Penari meletakkan kedua tangannya di depan dada dengan sikap sembah.
- Gerakan Kipas: Dalam beberapa variasi Tari Tanggai, penari menggunakan kipas yang digerakkan dengan lemah gemulai. Kipas ini melambangkan kesejukan dan ketenangan.
- Putaran Badan: Gerakan putaran badan dengan tangan yang diangkat menambah keanggunan tari. Ini mencerminkan keterbukaan dan penerimaan yang hangat.
- Langkah Kecil: Penari bergerak dengan langkah-langkah kecil dan lembut, yang menandakan kesopanan dan kelembutan.
Gerakan yang lembut namun tegas dalam Tari Tanggai juga sering diiringi dengan musik tradisional Gending Sriwijaya, yang menggunakan alat-alat musik khas Palembang seperti gendang, gong, dan kecapi. Irama yang mengalun perlahan menambah nuansa sakral dalam setiap pertunjukan tari.
Kostum Penari Tanggai
Kostum yang dikenakan penari Tanggai adalah salah satu elemen penting dalam memperkuat estetika tarian ini. Para penari mengenakan pakaian adat Palembang yang mewah dan penuh warna. Kostum tersebut biasanya terbuat dari kain songket khas Palembang yang memiliki motif-motif emas, yang menambah kesan anggun dan megah.
Bagian kepala penari dihiasi dengan siger, mahkota tradisional yang melambangkan status dan kebesaran budaya Palembang. Siger ini biasanya dipadukan dengan hiasan bunga melati yang melambangkan kesucian. Selain itu, penari juga mengenakan tanggai, yaitu hiasan berbentuk kuku emas yang dipasang di jari-jari mereka, yang menjadi ciri khas dari tarian ini.
Fungsi dan Peran Tari Tanggai
Dalam masyarakat Palembang, Tari Tanggai memiliki fungsi sosial dan budaya yang penting. Tarian ini biasanya ditampilkan dalam berbagai acara adat, seperti pernikahan, penyambutan tamu kehormatan, dan acara keagamaan. Sebagai tarian penyambutan, Tari Tanggai dianggap sebagai bentuk penghormatan tertinggi yang diberikan kepada tamu, terutama yang datang dari luar daerah atau luar negeri.
Selain sebagai tarian adat, Tari Tanggai juga berfungsi sebagai sarana untuk melestarikan budaya dan memperkenalkan kekayaan seni tradisional Palembang kepada generasi muda. Melalui pertunjukan tari di berbagai festival budaya dan acara internasional, Tari Tanggai menjadi media promosi yang efektif untuk mengenalkan budaya Palembang ke dunia luar.
Perkembangan dan Modernisasi Tari Tanggai
Seiring berjalannya waktu, Tari Tanggai terus mengalami perkembangan dan adaptasi. Dalam beberapa dekade terakhir, tarian ini tidak hanya dipertunjukkan dalam acara-acara tradisional, tetapi juga dalam berbagai festival seni dan budaya, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Bahkan, ada beberapa koreografer yang melakukan inovasi dengan menggabungkan gerakan modern tanpa menghilangkan unsur tradisionalnya. Misalnya, penggunaan properti tambahan seperti payung atau selendang, serta penyesuaian musik pengiring agar lebih variatif.
Meskipun demikian, inti dan makna dari Tari Tanggai tetap dijaga, yaitu sebagai simbol penghormatan dan keramahan. Modernisasi tari ini juga bertujuan untuk menarik minat generasi muda agar lebih mengenal dan mencintai warisan budaya nenek moyang mereka.
Tari Tanggai adalah salah satu tarian tradisional Palembang yang tidak hanya menampilkan keindahan gerakan dan kostum, tetapi juga mengandung makna budaya yang mendalam. Sebagai simbol penghormatan dan keramahan, tarian ini telah menjadi bagian penting dari upacara adat dan budaya masyarakat Palembang. Dengan upaya melestarikan dan mengembangkan Tari Tanggai, kekayaan budaya Palembang akan terus hidup dan dikenang oleh generasi mendatang.
Tari Tanggai bukan hanya tarian, tetapi juga representasi dari budi pekerti dan kekayaan tradisi yang diwariskan oleh leluhur Palembang, menjadikannya bagian penting dalam identitas budaya Sumatera Selatan.
Komentar
Posting Komentar