Hubungan bahasa Melayu, Siam dan Taiwan

Bahasa Melayu tergolong rumpun bahasa Austronesia yang sejak tahun 1960’an dipercaya induknya adalah bahasa Formosan yang terdiri dari 9 kelompok bahasa. Bahasa Melayu Polinesia sendiri diakui sebagai kelompok kesepuluh. Rumpun bahasa Austronesia dipercaya sebagai bagian dari rumpun bahasa Austrik bersama-sama rumpun bahasa Austro-Asiatik. Rumpun bahasa Austronesia memiliki kedekatan dengan rumpun Thai-Kradai yang salah satunya bahasa Siam. Namun demikian, keindukan bahasa Formosan dalam rumpun bahasa Austronesia yang mendasari teori Out of Taiwan mulai dipertanyakan, demikian pula Thai Kradai sebagai rumpun saudara. Bagaimana benarnya?Kedudukan dalam bahasa Austronesia :

  1. Thai Kradai
  2. Melayunesia
  3. Formosa

Rumpun bahasa Formosa

Kelompok Penutur Bahasa Taiwan :

  1. Utara : Atayalic, Formosa Barat Laut (Saisiyat), Bunun, Tsouic
  2. Selatan : Paiwan, Rukai, Puyuma
  3. Pesisir : Timur (Amis, Siraya, Kulun), Barat (Thao)

Menurut penelitian Wang 2016, 10-60% leluhur Cina Han adalah penduduk asli wilayah selatan. Penutur bahasa Austronesia Taiwan adalah turunan Tai Kadai yang bermigrasi langsung dari daratan Cina.

Taiwan telah dihuni sekitar 20 s/d 30 tahun lalu oleh budaya Changbinian yang merupakan pemburu yang berkerabat dengan budaya Hoanbinhian di utara Vietnam/selatan Guangdong. Setelah periode Changbinian, populasi Taiwan diisi tiga kelompok:

  1. Budaya Tapenkeng, populasi pencari ikan dari pesisir Fujian yang memulai budaya dari utara sekitar 5.000 tahun yang lalu.
  2. Budaya Longshan, populasi petani jewawut dari Shandong, yang memulai budaya dari bagian selatan sekitar 4.500 tahun yang lalu.
  3. Budaya Yuanshan, populasi pesisir Guangdong yang memulai budaya dari utara sekitar 3.200 tahun yang lalu.

Pengaruh Melayunesia datang dari Filipina. Penduduk Luzon mendiami Lan Yu, kemudian pesisir Timur mempengaruhi Ami dan Kavalan, kemudian ke utara yang dihuni Saisiyat.

Kedudukan Bahasa Austronesia

Rumpun bahasa Melayunesia

Kelompok Penutur Bahasa Melayunesia :

  1. Melayunesia Barat (WMP): Madagaskar, Malaysia, Indonesia, FIlipina, Vietnam, Kamboja, Thailand.
  2. Melayunesia Timur (EMP) : Melanesia, Mikronesia, Polinesia.
  3. Melayunesia Tengah/Wallacea (CMP) : Sulawesi Tengah/Tenggara (Celebitic), Bima, Nusa Tenggara, Maluku.

Kelompok bahasa Melayunesia terdiri dari 14 bahasa basal : Nias, Mentawai, Enggano, Nasal Bengkulu,Batak, Moken,Chamorro, Palau, Proto Sulawesi Selatan, Proto Celebic, Proto Filipina, Proto Melayu Sumbawa, Kalimantan Utara Raya, Proto Melayunesia Timur.

Menurut penelitian Hui Li, 2008, penutur Melayunesia diperkirakan bermigrasi dari Teluk Tonkin, yang merupakan tanah asal Kra – Dai. Melalui Vietnam penutur bahasa Melayunesia menyebar ke Indonesia.
Kedudukan Bahasa Austronesia

Rumpun bahasa Thai Kradai

Kelompok Bahasa Tai Kadai terdiri Hlai, Tai-Kradai, Kam-Tai, Baiyue terdiri dari 7 bahasa basal.

Bahasa Tai Kadai merupakan cabang bahasa Austronesia yang dikembangkan oleh sebagian populasi Daic di Yunnan dan berkemungkinan mengalami pengaruh dari rumpun bahasa Biao. Populasi Daic telah mulai bermigrasi ke selatan sejak masa Han memperkenalkan padi japonic. Imigrasi besar-besaran terakhir terjadi sejak penaklukan kerajaan Dali oleh Mongolia sekitar abad ke-13.

Para pemburu Formosan terkait dengan populasi Daic dari Cina Selatan (Yunnan, Guizhou,Guangxi, Guangdong) dan para petani jewawut dari Shandong. Secara genetik dan linguistik, Bahasa Formosan dan Melayu Polinesia terkait dengan populasi Daic.

Rumpun Bahasa Austronesia terbagi atas tiga cabang, yakni :

  1. Melayunesia, yang dituturkan oleh migran Daic dari Teluk Tonkin ke Selatan (Vietnam)
  2. Formosan, yang dituturkan oleh migran Daic dari Teluk Tonkin ke timur via Sungai Mutiara (Guangdong) ke Taiwan.
  3. Tai Kradai, yang dituturkan oleh migran Daic dari Teluk Tonkin ke utara via Sungai Merah atau Sungai Mutiara ke Yunnan.

Kedudukan Bahasa Austronesia