Asal kata Raja Suran

Dalam Sejarah Melayu disebutkan bahwa Raja Tigabuana (Palembang, Bintan, Singapura), Raja Pagaruyung dan Raja Tanjungpura merupakan keturunan putra dari Raja Suran. Nama Raja Suran tidak kita jumpai dalam silsilah raja-raja di India Selatan, lalu siapa Raja Suran?
Menurut Sharmalan Thevar dalam blognya, kata Suran merupakan penulisan dari kata Soran dalam bahasa Tamil yang bermakna Chola. Kata Chola sendiri datang dari kata Chorar (Sorar) yang juga dikenal sebagai Kallavar, Kalvar dan Kallar.
Kerajaan Chola adalah salah satu dari tiga kerajaan Tamil (yang lain Pandya dan Chera). Dalam prasasti Chola juga ditulis sebagai Sora dan Chora. Kata jamaknya, Sorar atau Chorar. Dalam bahasa Telugu, R digantikan D sehingga menjadi Choda.
Ada cabang dari Chola di Andhra sebagai hasil perkawinan antara Chola dengan keluarga feodal Guntur yang terjadi pada masa Karikala Chola yang dikenal sebagai Telugu Choda. Penguasa Maurya Ashoka menyebut Chola sebagai Choda. Sementara penulis Yunani, Ptolemy menyebutnya Sorai (dari kata Sorar).
Chola terkenal dari aksi penjarahannya. Kata Chorar (Tirudar) atau Choram (Kalavu) adalah kata Tamil tua yang menerangkan pencurian dan penjarahan. Choram, Tiruttu, Kollai dan Kalavu dalam bahasa Tamil adalah tindakan mencuri, merampas, menjarah dan merampok (stealing, raiding, plundering, ransack). Mereka yang terlibat disebut Tirudar, Kalavar, Kallar dan Chodar.
Orang Melayu mengingat Chola sebagai perampok yang menghancurkan Sriwijaya. Kutipan Sejarah Melayu :

Setelah berapa lamanya, maka Raja Suran pun sampailah kepada sebuah negeri Gangga Negara namanya, Raja Gangga Syah Johan nama rajanya. Maka adapun negeri itu di atas bukit, dipandang dari hadapan terlalu tinggi, dan dari belakang rendah juga; ada sekarang kotanya di darat Dinding, ke sana Perak sedikit. Setelah Raja Gangga Syah Johan mendengar khabar Raja Suran datang, maka baginda menyuruhlah menghimpunkan segala rakyatnya, nan menyuruh menutupi pintu kotanya, dan bangunan-bangunan pun disuruh tunggui, dan parit pun dipenuhi dengan air. Maka segala rakyat Raja Suran pun datanglah mengepung kota Gangga Negara itu, maka dilawan berperang oleh orang di atas kota itu. Maka segala rakyat Raja Suran pun tiada boleh tampil; kenaikan baginda gajah meta. Maka beberapa ditikam dan dipanah orang dari atas kota, tiada diendahkannya; maka tampil juga ia menghampiri pintu kota Gangga Negara, dipalunya dengan cokmamya, maka pintu Gangga Negara pun robohlah. Maka Raja Suran pun masuklah ke dalam kota Gangga Negara dengan segala hulu balangnya.
Setelah . Raja Gangga Syah Johan melihat Raja Suran itu datang, maka Raja Gangga Syah Johan pun berdiri memegang panahnya; maka segera dipanahnya, kena gumba gajah Raja Suran, gajah itu jatuh terjerumus. Maka Raja Suran pun melorupat serta menghunus pedangnya, diparangkan kepada Raja Gangga Syah Johan, maka kenalah lehemya, putus kepalanya, terpelanting ke tanah. Maka Raja Gangga Syah Johan pun matilah. Setelah rakyat Gangga Negara melihat rajanya mati itu, maka sekaliannya pun lari; maka ada seorang saudara raja itu perempuan, Puteri Dara Segangga  namanya; tcrlalu baik parasnya, maka diambil bagindalah akan isteri. Setelah negeri Gangga Negara sudah alah, maka Raja Suran pun berjalanlah dari sana.
Hatta berapa lamanya berjalan itu datanglah ke negeri Langgiu; dahulu negeri itu negeri besar, kotanya daripada batu hitam, sekarang lagi ada kota itu di hulu Sungai Johor. Adapun nama asal Langgiu itu dengan bahasa Siam ertinya perbendaharaan permata, maka adalah nama rajanya Chulan; akan baginda itu raja besar, segala raja-raja yang di bawah angin dalam hukumannya.
Demi Raja Chulan mendengar Raja Suran datang itu, maka Raja Chulan pun menghimpunkan segala rakyat; dan segala raja-raja yang takluk kepada baginda, semuanya berkampunglah. Maka Raja Chulan pun mengeluarilah akan Raja Suran; maka rupa segala rakyat itu seperti lautan, rupa gajah dan kuda pun demikian juga, seperti pulau rupanya, dan tunggul panji-panji seperti hutan, dan segala Senjata pun berlapis-lapis. Sekira-kira empat gorah bumi jauhnya berjalan, setelah datanglah pada suatu sungai, maka kelihatanlah rakyat Raja Suran seperti hutan rupanya. Maka kata Siam, “pangkali” ertinya “sungai”, maka dinamai orang sungai itu Sungai Pangkali.
Maka bertemulah rakyat Siam dengan rakyat Keling, lalu berperanglah, tiada sangka bunyinya lagi; segala yang bergajah berjuangkan gajahnya, dan yang berkuda bergigitkan kudanya, dan yang berpanah berpanahanlah dianya, dan yang berlembing bertikamkan lembingnya, dan yang berpedang bertetakan pedangnya. Maka rupa segala Senjata seperti hujan yang terlalu le bat, tidaklah lagi tarupak awan di langit, oleh kebanyakan kilat Senjata itu; gegak gempitalah bunyi tempik sorak orang berperang itu, maka berbangkitlah lebu duli ke udara, kelam-kabut, siang menjadi malam seperti gerhana matahari. Maka segala rakyat antara kedua belah pihak itu pun jadi campur-baurlah, tiada berkenalan lagi waktu berperang itu. Mana yang mengamuk di amuk orang pula, ada yang menikam ditikam orang pula. Maka kedua pihak itu pun banyaklah mati dan lukanya, darah pun banyaklah tum pall mengalir ke bumi seperti air sebak. Maka lebu duli itu pun hilanglah, maka kelihatanlah orang berperang itu, beramukamukan terlalu ramai; sama-sama tiada mahu undur lagi. Maka Raja Chulan pun menampilkan gajahnya menempuh ke dalam rakyat Raja Suran yang tiada terpermanai banyaknya itu, barang di mana ditempuhnya bangkai bertimbun-timbun; maka segala rakyat Keling pun banyaklah matinya, lalu undur. 
Setelah dilihat oleh Raja Suran, maka baginda pun tampillah mengusir Raja Chulan itu. Maka adapun kenaikan Raja Suran, gajah tunggal lagi meta, delapan hasta tingginya; tetapi gajah Raja Chulan itu terlalu berani. Maka bertemulah kedua gajah itu, lalu berjuang, maka bunyi kedua gading gajah itu seperti bunyi petir yang tiada berputusan. Maka kedua gajah itu pun tiada beralahan; maka berdiri Raja Chulan di atas gajahnya menimang-nimang lembingnya, lalu ditikamkannya kepada Raja Suran, maka kenalah ke baluhan gajah itu, sejengkal menjunjung ke sebelah. Maka Raja Suran pun segera memanah Raja Chulan, kena dadanya terus ke belakang; maka jatuhlah ia dari atas gajahnya ke tanah, lalu mati. Maka segala rakyat Raja Chulan melihat rajanya mati itu, maka sekaliannya pun pecah belahlah, lalu lari cerai-berai; maka diikuti oleh segala rakyat Keling mana yang dapat habislah dibunuh-  nya. Maka segala rakyatkeling pun· masuklah ke dalam kota Langgiu itu, lalu merampas, tiada terkira banyaknya beroleh rampasan itu. Maka ada seorang anak Raja Chulan itu perempuan, Tuan Puteri Onang Kiu namanya;terlalu baik parasnya. Maka dipersembahkan orang kepada Raja Suran, maka oleh baginda diambillah akan isteri. Setelah itu maka Raja Suran berjalanlah, maka baginda pun teruslah ke Temasik.